Ilustrator: Vicky Tito Guizar
Halo, ini aku, anak kecil yang suka bermain ke sana kemari.
Tapi, orang lain tidak suka melihat caraku bermain.
Ini tidak boleh, itu tidak boleh.
Harusnya begini, harusnya begitu.
Kata mereka, aku harus jadi anak baik. Tidak boleh nakal.
Memang, anak baik itu yang seperti apa?
Fera Nur Aini sehari-hari bekerja mengelola Book by Ibuk, ruang baca dan toko buku kecil di Malang.Tunggu Sebentar, ya! adalah karya pertamanya yang diterbitkan oleh DAR! Mizan.
Dengan penuh semangat, Fera menuliskan cerita yang diharapkan bisa menjadi teman
bagi anak-anak untuk belajar tentang arti menunggu dengan cara yang hangat dan menyenangkan.
1. Anak-anak dengan sifat alami yang sering disalahpahami
Menunjukkan bahwa setiap anak punya cara unik mengekspresikan diri, ada yang keras, aktif, sensitif, atau penurut, dan semua itu bukan masalah, melainkan bagian dari kepribadian anak yang sedang berkembang.
2. Meluruhkan label “nakal” dari kacamata orang dewasa
Mengajak pembaca (terutama orangtua dan guru) melihat ulang perilaku anak tanpa terburu-buru menilai. Anak yang menolak tidur siang, menanyakan hal berulang, atau tidak mau berbagi, mereka bukan keras kepala, melainkan sedang belajar mengatur diri dan memahami dunia.
3. Merayakan keberagaman cara anak belajar
Setiap anak punya cara berbeda untuk memahami, bereaksi, dan berinteraksi. Ada yang belajar lewat suara keras, ada yang lewat gerakan, ada yang lewat diam. Semuanya valid dan bagian dari proses mereka untuk bertumbuh.
4. Memberi ruang bagi emosi anak
Buku ini ingin menormalisasi berbagai emosi: marah, sedih, kecewa, dan takut, sebagai bagian penting dari perkembangan anak. Anak bukan “nakal” saat menangis keras atau berteriak, mereka hanya belum tahu cara menamai perasaannya.
5. Mengajak orangtua “melihat” bukan hanya “menilai”
Mengundang refleksi orangtua agar bisa menemani anak tumbuh tanpa berusaha mengubah kepribadiannya. Anak bukan harus tenang, melainkan butuh dipahami. Buku ini ingin menjadi jembatan empati antara anak dan orangtua.
6. Membangun kesadaran self-acceptance sejak dini
Menanamkan kepada anak bahwa tidak apa-apa berbeda, tidak apa-apa punya sifat unik; dan menekankan, bahwa anak boleh menegaskan dirinya “Aku tidak harus seperti yang orang lain mau. Aku cukup jadi aku.”
7. “Nakal” adalah kata yang bisa disembuhkan dengan pemahaman
Buku ini menutup dengan kesadaran bahwa tidak ada anak yang benar-benar nakal, yang ada hanya anak yang belum dipahami dengan cukup sabar.
Jumlah Halaman : 28 halaman