
Pagi ini, aroma nasi hangat dan telur dadar memenuhi rumah kecil yang hangat.
Dara duduk di kursinya di meja makan.
Seperti biasa, Bunda duduk di sampingnya, siap menyuapi.
Tapi hari ini berbeda.
"Dara, mau coba makan sendiri?" tanya Bunda sambil tersenyum.
Dara mengerutkan dahi. "Tapi, Bunda… nanti berantakan…"
Bunda mengangguk. "Tidak apa-apa. Kan, ada serbet dan piring. Kalau tumpah, kita bersihkan bersama."
Dara menatap piringnya. Di sana ada nasi, telur, dan beberapa potong wortel. Ia mengambil sendok kecilnya dengan ragu.
Di sudut ruangan, Si Kucing Oren duduk diam, memperhatikan.
"Lihat, Oren saja penasaran. Ayo, coba suapan pertama!" kata Bunda.
Dara mengambil sedikit nasi dengan sendoknya. Tangannya agak gemetar. Pelan-pelan, ia membawa sendok ke mulutnya.
"Hmmm, enak!" seru Dara senang.
Bunda bertepuk tangan. "Bagus! Coba lagi, sayang."
Dara semakin berani. Ia mengambil sepotong telur dan memasukkannya ke dalam mulut. Tapi, ups! Sedikit nasi jatuh ke meja.
Si Kucing Oren mengeong, seolah ingin membantu membersihkan.
"Tidak apa-apa, Nak. Namanya juga belajar," kata Bunda sambil tersenyum.
Dara melanjutkan makannya. Kadang sendoknya miring, kadang nasi berceceran, tapi ia semakin lincah.
Ketika piringnya hampir kosong, Dara berseru, "Bunda, aku bisa makan sendiri! Aku hebat!"
Bunda mengusap kepalanya. "Iya, Dara pintar sekali! Makan sendiri itu menyenangkan, kan?"
Dara mengangguk dengan bangga. Besok, ia ingin makan sendiri lagi!