
Sore ini, Dara sedang asyik sekali bermain!
Ia membuat rumah-rumahan dari kertas dan menyusun boneka-bonekanya di dalamnya.
Di sisi lain, Rafa sudah duduk di meja makan. "Dara, ayo makan dulu!" panggilnya.
Tapi Dara menggeleng tanpa menoleh. "Nanti saja, Kak! Aku masih mau main!"
Waktu berlalu… Matahari mulai condong ke barat.
Tiba-tiba, "GROOK… GROOK…!"
Dara terkejut dan melihat ke kanan-kiri.
"Apa itu? Suara Oren?" tanyanya sambil mencari kucingnya.
Rafa tertawa keras. "Bukan! Itu suara perutmu sendiri, Dara! Kamu pasti lupa makan!"
Dara memegang perutnya. Rasanya kosong dan sedikit lemas.
Tadi ia berlari-lari ke sana kemari, tapi sekarang duduk saja rasanya berat.
Saat itu, Ibu datang dan tersenyum. "Kalau lupa makan, tubuh kita bisa lemas, lho!"
Ibu duduk di samping Dara dan berkata, "Makanan itu seperti bensin untuk tubuh. Kalau kita nggak makan, tubuh jadi nggak punya energi untuk main, belajar, dan berlari!"
Dara mulai mengerti. "Oh… Jadi seperti mobil? Kalau nggak diisi bensin, mobilnya nggak bisa jalan?"
Ibu mengangguk. "Betul sekali!"
Dengan semangat, Dara akhirnya pergi ke dapur.
Di sana, Ibu sudah menyiapkan camilan sehat: roti isi selai kacang dan susu segar.
Setelah makan, Dara merasa lebih segar dan berenergi!
Ia berlari ke Rafa dan berkata, "Sekarang aku sudah kenyang dan bisa main lagi!"
Rafa tersenyum. "Tapi besok jangan lupa makan lagi, ya!"
Dara mengangguk mantap.
Sekarang ia tahu, makan tepat waktu itu penting agar bisa tetap aktif, ceria, dan bermain dengan senang hati!
Si Kucing Oren mengeong pelan, seakan ikut mengingatkan.
Hari itu, Dara belajar sesuatu yang berharga: perut kenyang, hati senang!