
Pagi ini, rumah terasa sibuk seperti biasa.
Di dapur, Ibu menata bekal di dalam kotak makan berwarna biru.
Ada nasi kepal berbentuk kelinci, wortel oranye yang dipotong bintang, dan potongan apel merah segar.
Dara berdiri di dekat meja, mengamati bekalnya dengan mata berbinar. “Cantik sekali, Bu!” katanya kagum.
Rafa, kakaknya, datang sambil membawa tasnya. “Wah, bekalmu keren, Dara! Jangan malu makan di sekolah, ya. Pasti enak!” katanya sambil mengacungkan jempol.
Dara tersenyum, tapi hatinya masih dag-dig-dug.
Ini pertama kalinya ia membawa bekal sendiri ke sekolah!
Bagaimana kalau teman-temannya membawa makanan yang berbeda?
Bagaimana kalau ia tidak bisa membuka kotaknya sendiri?
Di sekolah, Dara duduk di kursinya sambil memegang kotak bekalnya erat-erat.
Saat waktu makan siang tiba, semua teman-temannya mulai mengeluarkan bekal masing-masing. Ada yang membawa roti, ada yang punya kotak bekal berisi mie goreng, dan ada juga yang membawa susu kotak.
Dara menggigit bibirnya. Haruskah aku membuka bekalku sekarang? pikirnya.
Ia menatap kotaknya, tapi tangannya ragu untuk membuka.
Bagaimana jika nasi kepalnya terlihat aneh? Bagaimana jika aku tidak bisa membuka tutupnya?
Tiba-tiba, teman di sebelahnya, Lita, melirik ke arah Dara.“Dara, bekalmu apa?” tanyanya penasaran.
Dara tersentak. Perlahan, ia membuka kotaknya.
Nasi kepal berbentuk kelinci tersenyum ke arahnya. Mata Lita membesar.
“Wah, nasi kepalnya lucu sekali! Aku belum pernah lihat yang seperti itu.
"Kamu makan bareng kami, yuk!” katanya sambil tersenyum.
Beberapa teman lain ikut mendekat. “Iya, lucu banget!” kata Dito. “Kita makan bareng!”
Dara merasa lebih percaya diri. Ia mengambil sumpitnya dan mulai makan.
Ternyata, makan bersama teman-teman itu menyenangkan!
Ia bahkan berbagi potongan apel dengan Lita, dan Lita memberikan sepotong rotinya sebagai gantinya.
Setelah makan, Dara merasa kenyang dan senang. Ia tersenyum sendiri. Kenapa tadi aku deg-degan sekali, ya?
Bekal dari Ibu memang paling enak, dan makan bersama teman-teman membuatnya semakin lezat!
Saat pulang sekolah, Dara berlari ke arah Ibu dan Rafa yang menjemputnya.“Bu, aku makan habis bekalnya!
Teman-temanku suka nasi kelinciku!” katanya girang.Ibu tersenyum. “Wah, hebat! Besok kita buat bekal seru lagi, yuk!”Dara mengangguk semangat.
Sekarang ia tahu, membawa bekal ke sekolah itu menyenangkan!