18 Maret 2025 1:12 pm

Saat Aku Marah dan Menolak Makan, Apa yang Terjadi?

Saat Aku Marah dan Menolak Makan, Apa yang Terjadi?
Siang ini, matahari bersinar cerah. Angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela ruang makan.
Di meja, ada sepiring nasi, ayam goreng, dan semangkuk sayur bayam yang masih hangat.
Rafa duduk di kursinya dengan wajah cemberut.
Ia melipat tangan di dada dan tidak mau menyentuh makanannya.
Ibu duduk di sampingnya dan berkata lembut, "Ayo, Rafa makan dulu. Sayurnya sehat, loh."
Tapi Rafa menggeleng. "Aku nggak suka sayur! Aku nggak mau makan!" katanya keras.
Si Kucing Oren, yang sedang tidur di sudut ruangan, membuka mata dan melirik Rafa sebentar sebelum kembali meringkuk.
Ibu mencoba tersenyum. "Sayurnya enak, Rafa. Coba satu suap saja, ya?"
Tapi Rafa semakin kesal. Ia mendorong piringnya menjauh.
"Aku nggak lapar! Aku nggak mau makan!" serunya.
Ibu menghela napas. Sebelum Ibu sempat bicara lagi, terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Hei, ada apa ini?" suara Ayah terdengar lembut.Rafa tetap cemberut. "Aku nggak mau makan, Yah. Ibu masak sayur yang aku nggak suka!"
Ayah duduk di kursinya dan berpura-pura berpikir.
"Hmm… tahu nggak, Rafa? Perut kita itu seperti seekor naga kecil."
Rafa melirik Ayah dengan penasaran. "Naga?"
Ayah mengangguk. "Iya, namanya Naga Perut Lapar. Kalau kita nggak makan, dia mulai menggeram… Grrrr!"
Tiba-tiba, perut Rafa berbunyi. "Grroook!"
Mata Ayah membesar. "Dengar itu! Nagamu mulai marah! Dia lapar!" Rafa terkejut.
Ia menaruh tangannya di perutnya. "Jadi… perutku yang berbunyi itu suara naganya?”
Ayah tertawa. "Iya! Kalau nagamu terus lapar, nanti dia semakin kesal dan tidak punya tenaga untuk bermain!" Rafa mengerutkan dahi.
"Kalau aku makan, naganya jadi baik lagi?"Ayah mengangguk.
"Betul! Dia akan kenyang dan jadi naga kuat yang bisa bermain sepuasnya!" Rafa menatap piringnya lagi.
Ia mengambil sendok, menyendok nasi dan ayam, lalu memasukkannya ke mulutnya.
Perutnya mulai terasa nyaman."Naga Perut Laparku mulai senang!" katanya sambil tersenyum.
Ia mengambil sejumput sayur bayam. Awalnya ragu, tapi ia mengingat naganya.
Rafa mengunyah pelan-pelan."Hmmm… ternyata nggak seburuk yang aku kira."
Ibu tersenyum senang. "Lihat? Nagamu pasti berterima kasih!"
Setelah piringnya hampir kosong, Rafa menepuk perutnya.
"Sekarang Naga Perutku sudah kenyang! Aku siap bermain!" katanya gembira.
Ayah tertawa. "Bagus! Sekarang, ayo kita bermain di luar!"
Rafa berlari keluar rumah dengan semangat. Ibu tersenyum sambil merapikan meja.
Dari sudut ruangan, Si Kucing Oren menguap dan kembali tidur.
Hari ini, Rafa belajar sesuatu yang baru. Kalau ia menolak makan, perutnya bisa marah!
Tapi kalau ia makan dengan baik, ia punya tenaga untuk bermain sepuasnya!
Blog Post Lainnya
Social Media
Alamat
0811-2244-4455
0822-1122-1155
marketing@mizanpustaka.com
Pengiriman
-
-
Berita Newsletter
`Berlangganan
Powered by Buku Mizan Pustaka | ©- 2025 All Rights Reserved.